Lestarikan ekosistem laut

Posted: February 13, 2011 in Kuliah Perikanan, lomba - lomba
Tags:

Laut merupakan bagian terluas dari bumi ini, hampir 70% bumi ini terdiri dari lautan. Laut dunia memiliki sumber daya hayati yang sangat berlimpah, apa lagi Indonesia yang merupakan Negara kepulauan yang mana kekayaan laut adalah asset yang penting bagi Negara. Tidak sedikit masyarakat Indonesia menggantungkan hidupnya pada lautan, mereka disebut nelayan. Nelayan menangkap ikan menggunakan alat tangkap dan metode penangkapan yang bermacam – macam. Dari sekian banyak alat tangkap yang digunakan ada satu alat tangkap yang menjadi perdebatan, alat itu adalah trawl.

(Menurut Juliani, IPB) Trawl adalah penangkap ikan, udang dan biota laut lainnya yang berupa jaring kantong besar, melebar dan mulut jaring yang terbuka, dengan kedua sayap jaring yang terbaring di bagian depan pada masing-masing sisinya, dan meruncing pada bagian akhir jaring. Bagian akhir jaring, akan menuntun hasil tangkapan ke bagian kantong (cod end), ketika ditarik secara horisontal di perairan. Prinsipnya trawl ini beroperasi dengan cara “menggaruk” semua benda / biota yang dilaluinya tanpa terkecuali. Trawl sendiri terbagi menjadi beberapa jenis, yaitu :

  1. Trawl Permukaan : Trawl ini beroperasi di bagian atas / permukaan
  2. Middle Trawl : Trawl ini beroperasi di tengah badan air / di tengah lautan
  3. Bottom trawl : Trawl ini beroperasi di dasar laut.

Gambar bottom trawl

Mengapa trawl menjadi permasalahan bagi Negara kita? Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, trawl akan “menggaruk” semua yang dilaluinya. Contohnya jika seorang nelayan yang menggunakan trawl menjadikan udang sebagai biota target, maka ikan / biota laut lain yang tertangkap selain udang akan dilemparkan kembali ke laut walaupun biota non-target tersebut telah mati, hal ini dapat mencemarkan laut dengan “bangkai” ikan. Tak sampai disitu dampak buruk trawl, nelayan pengguna trawl  yang tidak memperhatikan fishing ground (area penangkapan ikan) dapat merusak terumbu karang akibat tersapu oleh trawl. Salah satu nya terjadi di Bengkulu, menurut ANTARA-Bengkulu, terumbu karang di kawasan pantai Provinsi Bengkulu sampai saat ini rusak antara 40 hingga 50 persen akibat pengguna jaring trawl.

Disamping dari segi ekosistem, trawl berdampak dari segi social ekonomi. Contohnya nelayan kecil yang tidak menggunakan trawl (karena pembuatannya tergolonng mahal) akan kalah bersaing dengan nelayan lain yang menggunakan trawl dari segi hasil tangkapan.

laporan Organisasi Pangan Dunia (Food and Agriculture Organization/FAO, 2007) menyebutkan bahwa kondisi sumber daya ikan di sekitar perairan Indonesia, meliputi perairan sekitar Samudra Hindia dan Samudra Pasifik sudah menunjukkan kondisi eksploitasi melebihi ambang batas dan berlebih. Oleh karena itu jika trawl terus dioperasikan bukan tidak mungkin biodiversity dan kelimpahan biota laut Indonesia makin menipis dan punah. Untuk menghindari hal tersebut pemerintah membuat peraturan pelarangan penggunaan trawl di Kalimantan Timur Bagian Utara (Permen Nomor 14 Tahun 2008 tentang Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Pukat Hela (Trawl) di Perairan Kabupaten Kalimantan Timur Bagian Utara),

Laut Indonesia sudah masuk dalam kategori over fishing, hal apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga dan melestarikan laut kita? Menurut DR. Suzy Anna (Dosen FPIK UNPAD) dalam kuliah ekonomi sumberdaya perairan memberikan materi agar laut kita dapat terselamatkan tanpa nelayan kehilangan mata pencahariannya. Menurut beliau Negara kita patut mengembangkan sistem Marine Protected Area.

Marine Protected Area (MPA) merupakan kawasan lindung yang batas – batasnya terdiri dari beberapa area laut (http://en.wikipedia.org/wiki/Marine_Protected_Area). Pada tahun 2010 indonesia telah memiliki 100.000 km 2 dan ditargetkan pada tahun 2020 menjadi 200,000 km2.

Dalam MPA terdapat suatu area / daerah,dimana dalam daerah ini tidak boleh dilakukan penangkapan oleh siapapun dan bagaimanapun.

Lalu bagaimana MPA ini dapat menjaga kelestarian bioa laut? Karena dalam MPA tidak boloh dilakukan kegiatan penangkapan, maka biota laut merasa “aman” dalam MPA tersebut, sehingga MPA dijadikan spawning  ground dan feeding ground oleh biota laut. Dari segi apa MPA menguntungkan bagi nelayan? Ketika MPA telah padat oleh biota laut, maka ikan – ikan dengan sendirinya akan keluar dan nelayan dapat menangkap ikan yang keluar dari MPA tersebut.

“MARI LESTARIKAN LAUT DAN SEGALA ISINYA”

 

Advertisements
Comments
  1. Yupz… Denuzz tinggal jauh dari laut. Jadi, Denuzz cuma bisa berdoa aja deh semoga sahabat-sahabat yang tinggalnya deket sama laut dan kerjanya berhubungan dengan laut untuk tetap menjaga kelestarian laut… hehe…

    Salam sayang dari BURUNG HANTU… Cuit… Cuit… Cuit…

  2. M_Rizki says:

    hahahaha…..

    tinggal di gunung tp jiwa laut nya ada…
    nice article.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s