Fitoplankton dan Global warming

Posted: February 1, 2011 in Kuliah Perikanan, lomba - lomba
Tags:

Pemanasan Global tampaknya telah menjadi isu populer akhir – akhir ini. Pemanasan  Global merupakan peristiwa dimana meningkatnya temperatur rata – rata di permukaan bumi, baik itu di daratan maupun di lautan. Pemanasan global diantaranya diakibatkan oleh suatu peristiwa yang disebut efek rumah kaca. Efek rumah kaca ini disebabkan naiknya konsentrasi gas karbon dioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak, batu bara, dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk menyerapnya. Ketika energi panas dari matahari masuk ke permukaan bumi, energy tersebut di serap dan sebagian lagi dipantulkan kembali ke udara, tetapi karena gas adanya gas CO2 maka energy tersebut kembali dipantulkan dibumi dan terkurung, hal inilah yang menyebabkan terjadinya pemanasan global.

Atas dasar inilah seluruh dunia menggalakkan program penghijauan untuk mengurangi dampak pemanasan global ini. Tetapi apakah penghijauan atau melakukan penanaman pepohonan ini tepat dan efektif? Mungkin jawabannya tidak, mengapa? Karena dengan kepadatan penduduk dunia saat ini lahan menjadi asset yang sangat berharga, disamping untuk keperluan membangun tempat tinggal, lahan digunakkan untuk keperluan bisnis, contohnya pembangunan department store, dll. Lalu apa solusi yang lebih baik untuk mengurangi dampak pemanasan global? Jawabannya ada pada hamparan biru yang membentang lebih dari 70% di permukaan bumi, lautan. Lautan merupakan “lahan” yang mustahil ditinggali manusia dan merupakan tempat tinggal produsen primer terbesar yaitu fitoplankton.

Fitoplankton merupakan bagian dari plankton yang “berbentuk” tumbuhan dan merupakan makhluk hidup uniseluler, ia mempunyai klorofil dan mampu melakukan fotosintesis layaknya tumbuhan tingkat tinggi yang ada di daratan. Apa buktinya bahwa fitoplankton lebih efektif dibanding tumbuhan tingkat tinggi?

Menurut M.Sachlan (Ex- Direktur Lembaga Penelitian Perikanan Darat, Bogor) dalam diktat kuliah Planktonologi Efisiensi fotosintesis dari satu gram plankton ialah lebih besar dari pada satu gram daun flora tingkat tinggi. Hal ini telah dibuktikan dalam percobaan laboratorium :

  • Tiap cel dari satu gram plankton yang besarnya kira – kira sama dengan cel yang ada pada daun, tetapi jumlahnya lebih banyak, mudah langsung disinari dari segala arah dan mudah berkembang biak karena uniceluler dan hidup bebas dalam air

Contoh : dari satu cel chlorella dalam 24 jam dapat berkembang biak mencapai 10.000 cel.

  • Tiap cel pada daun tidak langsung dapat sinar karena terkurung dalam nervatur, dan sukar untuk berkembang biak karena nervatur, tangkai daun, dsb harus membesar.

Penelitian baru – baru ini menunjukkan bahwa fitoplankton yang merupakan produsen perairan menjadi penyumbang oksigen terbesar untuk bumi, fitoplankton ini menyumbang oksigen sebesar 80 %. Selain itu “lahan” untuk “menanam” fitoplankton tidak mungkin menyempit karena lautan bukan tempat tinggal untuk manusia yang semakin hari semakin padat.

Ternyata tidak sampai disitu hal mengagumkan dari fitoplankton ini. Peneliti dari Amerika Serikat menemukan bahwa fitoplankton ini secara tidak langsung dapat memperlambat proses pemanasan global dengan cara menahan sebagian sinar matahari yang merugikan. Fitoplankton banyak yang hidup dipermukaan karena membutuhkan sinar matahari, sedangkan nutrisi yang dibutuhkan fitoplankton berada dibawah laut, hal ini menyebabkan terjadinya mal nutrisi danmengakibatkan fitoplankton rentan terhadap sinar UV.

Secara alamiah fitoplankton mencoba melindungi diri dari sinar UV yang mengancamnya dengan menghasilkan zat dimethylsulfoniopropionate (DMSP) yang berfungsi untuk menguatkan dinding sel mereka. Zat ini jika terurai ke air akan menjadi zat dimethylsulfide (DMS). DMS kemudian terlepas dengan sendirinya dari permukaan laut ke udara. Di atmosfer, DMS bereaksi dengan oksigen sehingga membentuk sejenis komponen sulfur. Komponen sulfur DMS itu kemudian saling melekat dan membentuk partikel kecil seperti debu. Partikel-partikel kecil tersebut kemudian memudahkan uap air dari laut untuk berkondensasi dan membentuk awan yang dapat melindunginya dari sinar UV. Awan yang disebabkan oleh plankton ini, dipercaya dapat memperlambat proses pemanasan bumi, serta memiliki efek besar tehadap iklim bumi.

Catatan : Sumber artikel ini sebagian besar saya dapatkan dari materi kuliah

Advertisements
Comments
  1. Wah wah.. Pemanasan global memang menjadi momok yang menakutkan saat ini… 😦

    Salam dari BURUNG HANTU… Cuit… Cuit… Cuit…

  2. bayurps says:

    nice info 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s